Senin, 30 Desember 2013

Bisakah Mencintai Tanpa Hati?

Diposkan oleh Yuan Fasih di 18.03
Pagi ini Shindia kembali merangkul bantalnya, ketika kegalauan kembali merengkuh. Bibirnya terkatup rapat, air matanya terus meleleh tatkala ia mempermainkan tuts smarthphonenya berkali-kali. Berharap Vani membalas sebuah pesan curcolnya di whatsapp dengan nada setuju dan mendukung.
Tapi ternyata? Tidak!
Sebenarnya, dia malu berterus-terang kepada sahabat sejak kuliahnya itu, tentang apa yang ia rasakan. Tentang apa yang terjadi dengan keluarganya dan mantan kekasihnya. Shindia malu mengakui, kalau keluarganya kelewatan kejam dan tak ingin sahabatnya itu berpikiran sama hal dengan dirinya.
Shindia itu... dia anak manja, memang sedikit ngeyel tapi sebenarnya dia gadis manja yang penurut. Apa yang disarankan keluarganya, dia lebih banyak menerima daripada menolak. Termasuk tentang sekolah dan tentu saja, kehidupan cintanya.
            Shin, begitulah nama panggilannya di rumah. Selalu tersenyum, walau sebenarnya hatinya penuh uneg-uneg pemberontakan yang tak pernah sekalipun keluar dari bibir manisnya "Ini hidupku! Aku yang menjalani! Bisakah aku memilih jalanku sendiri?"
Shin mengernyitkan dahi dan sedikit kecewa ketika Vani menyalahkan dirinya yang plin-plan dan lebay bin alay menjalani hidup yang cuma sekali ini.
            "Kau bisa berkata seperti itu karena memang, kau bukanlah Shindia yang menjalani hari-hari berat ini" gerutunya sambil memaki-maki isi whatsapp Vania.
            Shin membuka kembali pesan percakapannya dengan Noel. Setengah mengusap matanya yang basah, dia mulai membaca ulang semua percakapannya dengan Noel sampai akhirnya ia berhenti saat membaca satu pesan Noel.
            "Aku menyesal kamu harus tau kenapa aku bisa putus kemarin... Bisakah waktu berulang kembali? Aku tak ingin kau tau dan menganggapku gadis cengeng tak punya pendirian" katanya sambil menunjuk-nunjuk pesan Whatsapp Noel.

Shin menatap langit-langit kamarnya lalu melirik dua tulisan nama yang ada di tembok, namun ia lebih tertarik dengan nama Noel di tembok. Sedetik kemudian mulai bergumam seandainya Noel tahu apa yang terjadi pada dirinya...
Kamu orang yang gigih...
Kamu tak kenal lelah untuk buktikan cintamu kepadaku,
Aku tau kau mencintaiku...
Apa kau juga tau aku pernah menyukaimu?
Tapi.. aku batasi rasa itu...
Aku menghindarinya, aku tak ingin menjadikan rasa sukaku berubah jadi rasa cinta kepadamu
Kau tau kenapa?
Itu karena aku patuh pada mereka sampai pada akhirnya aku menemukan sosok lain di sudut hatiku...
kami kenal karena mereka, kami bertemu karena mereka...
tapi kami cinta karena kami saling cinta

ketika sebuah alasan klasik terulang kembali...
pupuslah harapanku...
ketika aku mulai mencintainya begitu juga (mungkin) dirinya
meninggalkanku di sini... dengan asa yang sudah mulai meluntur
apa rasa cintanya juga sudah meluntur?
kalau iya... mengapa dia menyuruh seseorang untuk menjadikannya sebagai mimpi buruk hingga hilang asa dariku?

Ada suatu kebohongan yang salah seorang sahabat pemilik indra keenam pun mengetahuinya dari garis tanganku..
dia, sahabatku itu mengatakan "Dia bohong, kamu sering dibohongi dan kamu plin plan"
tak ada kata lain terucap dari bibirnya, kecuali satu: "ada yang serius deketin kamu, ada yang nggak serius"
Nah terus siapa yang serius?
Entah siapa yang berbohong...
mungkin kau Arshyad... tapi kau begitu meyakinkanku akan rasamu kepadaku... lalu bagian mana dari dirimu yang berbohong kepadaku?
Lalu siapakah yang serius?
Kamu kah???
Kamu kah orang itu Noel?
Begitu banyak orang yang ingin mendekat... tapi hanya kamu yang terlihat beda...

Aku ingat Moreno, dia pernah mencuri hatiku
Mencoba mengajariku mencintai tanpa hati...
Moreno... si brengsek itu

Ahh,,, aku mulai mengingatnya lagi...

Tahukah Noel?
Aku takut mencintaimu...
Aku takut kalo aku benar-benar mencintaimu...

0 komentar on "Bisakah Mencintai Tanpa Hati?"

 

[Fully Saiia Blog] Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez